Wednesday, February 1, 2012

Hutan Kalimantan, Sumbangsih Indonesia untuk Dunia



Isu pemanasan global beberapa tahun belakangan kerap menjadi perhatian dunia, dimana-mana masyarakat  dunia berkoar perihal efek rumah kaca, emisi, polusi, dan lain sebagainya. Tak sedikit dari mereka yang mulai menggalakkan berbagai program penghijauan, pengurangan penggunaan kendaraan bermotor, pengolahan sampah, dan program-program lain terkait dengan pemanasan global. Beberapa tahun terakhir seolah dunia dibius oleh tren pemanasan globaal. Begitu pula tempat saya belajar saat ini, kampus saya kini sedang menggalakkan program eco campus yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang asri dan bebas  polusi. Dalam skala yang lebih luas lagi negara-negara di dunia mulai berlomba untuk ikut turun tangan mengatasi pemanasan global, mulai dari penerapan arsitektur ramah lingkungan hingga penelitian dan penggunaan energi alternatif.
Bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah kita berkontribusi untuk dunia? Belakangan ini tersiar kabar bahwa Indonesia akan mengalokasikan 45% wilayah pulau Kalimantan sebagai paru-paru dunia, seperti yang dilansir oleh VOAIndonesia , Senin 30 Januari 2012. Sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan hayati yang melimpah sudah semestinya Indonesia turut berkontribusi lebih untuk mengurangi dampak emisi  gas rumah kaca. Meskipun baru sebatas wacana, keputusan presiden untuk menjadikan 45% wilayah Kalimantan sebagai paru-paru dunia menunjukkan keseriusan Indonesia untuk mendukung program menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Wilayah kalimantan dinilai cukup berpotensi untuk dijadikan paru-paru dunia, mengingat wilayah hutan di kalimantan akhir-akhir ini mulai berkurang, dan berbagai satwa serta flora endemik di Kalimantan yang mulai terancam kepunahan. Maka dari itu proyek besar ini juga akan membawa dampak positif yang luar biasa bagi Indonesia, selain melestarikan hutan tropis beserta melindungi satwa di dalamnya, Kalimantan sebagai paru-paru dunia secara tidak langsung juga berfungsi menjaga tata air di pulau tersebut. 
Proyek paru-paru dunia di Kalimantan ini juga terkait aturan tata ruang di pulau Kalimantan, tidak hanya masalah konservasi hutan, melainkan masalah energi juga menjadi bagian tata ruang di pulau ini. Sekarang yang menjadi pertanyaan, sanggupkah Indonesia melakukan semua itu? Mengingat luas hutan di Kalimantan semakin tahun semakin berkurang bahkan terancam kepunahan pastilah sebagian besar masyarakat merasa pesimis. Namun keluarnya Peraturan Presiden ini setidaknya sedikit memberi nafas baru bagi kelangsungan dan konservasi hutan di Kalimantan. Semoga Hutan Kalimantan benar-benar menjadi tonggak awal paru-paru dunia di Indonesia dan menjadi sumbangsih bagi dunia.

Pemerintah tidak hanya berhenti di pulau Kalimantan saja, proyek paru-paru dunia ala Indonesia ini juga akan dilaksanakan di daerah Sumatera serta Papua. Semoga proyek besar ini tidak sekedar wacana dan segera bisa kita lihat realisasinya.

3 comments: